Selasa, 25 Oktober 2016

#MenurutLoh



Menjadi perempuan yang dibesarkan oleh seorang ibu membuatku sudah sering merasakan pahitnya hidup. Ayah sudah lama meninggal, itulah sebabnya demi memenuhi kebutuhan kami sekeluarga, aku harus rela membantu ibu mengerjakan pembuatan kain. Pahit manisnya hidup telah kami lalui, bahkan dari SMP sampai SMA aku berusaha bekerja untuk membiayai sekolahku. setelah tamat SMA aku berniat melanjutkan kuliah. Akupun diterima di Universitas Sumatera Utara dua tahun yang lalu. Tempat kuliah yang jauh dari rumahku membuatku dibentuk sedemikian rupa menjadi wanita yang lebih tangguh.

Menjadi mahasiswa rantau adalah suatu tantangan besar bagiku. Diterima disuatu Universitas di luar kota jauh dari rumah membuatku mau tak mau jika harus menerima status baruku sebagai mahasiswa rantau. 
 Tentu saja menjadi mahasiswa bukanlah hal yang mudah dijalani. Aku harus beradaptasi mulai dari nol untuk bisa bertahan hidup di lingkungan baruku, belajar kebudayaan baru, kebiasaan baru, dan teman-teman baru, juga lingkungan tempat tinggal yang baru. 

Setelah adaptasi itu selesai, saatnya untuk merasakan pahitnya menjadi anak rantau. Tentu saja anak rantau seperti diriku ini sering mengalami masa-masa yang sulit. Uang yang pas-pasan membuat semuanya jadi tambah sulit. Karena saat menjadi anak kos di perantauan, hal yang terutama itu adalah soal makanan. Makanan adalah pengeluaran harian semua mahasiswa, menu makan yang harus diatur karena tak bisa sesuka hati meminta uang kepada orang tua. Mungkin di rumah, aku bisa sesuka hati makan apa saja yang disediakan oleh ibu, tapi saat jadi anak kos ikan yang di beli dari rumah makan harus dibagi dua agar lebih irit.

Anak kos juga memerlukan uang untuk membeli perlengkapan baik untuk perlengkapan mandi, perlengkapan di kampus dan lain-lain. Jika dari awal aku tak bisa mengatur keuangan ku, tak mungkun aku bisa bertahan kuliah sampai sekarang ini. Aku tahu uang Rp.1000.000,00 yang diberikan orang tua ku perbulan tidaklah cukup, itu sebabnya aku juga bekerja part time sebagai tentor dan mengajar anak SMP dan SMA sebagai guru privat. Hari Sabtu dan Minggu aku bekerja di rumah makan untuk membantu keperluan disana.

Sudah banyak pengalaman yang amat pahit yang ingin membuatku berhenti kuliah, tetapi dengan mengingat kerja keras seorang ibu yang berusaha membiayaiku, semua pikiran yang membuat aku ingin berhenti kuliah aku buang jauh-jauh. Tidak apa-apa jika aku harus menahan lapar, sering ngantuk belajar karena kelelahan bekerja, jarang kumpul sama teman karena sibuk mengajar les asalkan ibuku bangga melihat aku memakai toga saat wisuda nanti. Untuk itu aku harus berjuang sampai titik darah penghabisan, karena bagiku bukan hanya orang yang punya uang yang bisa mendapat gelar sarjana itu, siapa saja bisa asalkan ada tekat dan kemauan.

Jika kamu sebagai perempuan masih manja, dan sangat bergantung sama orang lain. Nih baca website trivia ini Perempuan Tidak Boleh Selalu Manja, Ini Alasan Kamu Harus Menjadi Perempuan Tangguh! disitu banyak ditulis apa saja kerugian yang kamu dapatkan jika masih manja. So, bagi perempuan-perempuan manja berubahlah dan jadilah tangguh.